Motret saat bosan menyapa



Ada kalanya saya merasa bosan tapi malas kemana-mana. Kalaupun pergi, tidak mau yang jauh-jauh dan cukup yang dekat rumah saja. Nah, kalau sudah seperti ini saya biasanya memilih jalan kaki memutari komplek sambil bawa kamera. Hitung-hitung olah raga sambil mendokumentasikan lingkungan sekitar.

Memotret lingkungan tempat tinggal mungkin terlihat kurang menarik. Karena ketemunya dengan yang itu-itu lagi. Kalaupun ada perubahan, biasanya perubahannya relatif kecil. Tapi seiring berjalannya waktu, saya yakin foto-foto yang terkumpul akan menghibur kita kelak. Yaitu saat kita mengenang dan bernostalgia dengan masa muda.

Selain untuk dokumentasi, memotret lingkungan sekitar juga membantu kita mengetahui berbagai isu sosial yang ada. Kalau di daerah tempat saya tinggal misalnya, isu sosial yang cukup menonjol adalah keluarga gerobak. Menurut saya jumlahnya cukup banyak dan setidaknya satu gerobak terdiri dari tiga atau empat anggota keluarga.

Salah satu isu sosial yang sering ditemui adalah keluarga gerobak.

Tidak jelas apakah ada program pengendalian populasi kucing liar.

Kucing liar bisa ditemukan di banyak tempat. Terutama dekat pasar.
Ada banyak keindahan yang mungkin luput dari pandangan banyak orang.
Daun-daun seperti ini ikut mengingatkan kita tentang siklus hidup.
Selain isu sosial, jalan santai sambil mendokumentasikan lingkungan juga membuat kita lebih tahu tentang fauna yang ada.

Setidaknya saya tahu kalau populasi kucing di tempat saya tinggal lumayan banyak. Tak hanya itu, kucing-kucing liar yang hidup di jalan ternyata secara rutin mendapatkan makanan dari seorang ibu yang tiap hari berkeliling memberikan makan kepada mereka.

Dari apa yang saya lihat, makanannya cukup sederhana: campuran nasi dengan ikan. Uniknya, kucing-kucing liar tersebut sudah hapal jadwal makan mereka dan dengan sabarnya menunggu sang ibu tiba.  Saya perhatikan juga hampir tidak ada perselisihan diantara para kucing karena semuanya kebagian makan.

Sebenarnya saya ingin tahu berapa biaya yang dikeluarkan si ibu setiap harinya. Tapi sayang sampai saat ini saya belum sempat ngobrol dengan beliau untuk bertanya-tanya.

Keberadaan warung masih tetap ada, meski jumlahnya sudah jauh berkurang.

Pedagang kaki lima yang memudahkan konsumen untuk makan dan minum.

Keseharian warga di sekitar warung
Ruang publik yang mengundang kita untuk istirahat sejenak di sini.
Penasaran juga seberapa berat balon sebanyak itu.
Suasana taman yang dipenuh oleh warga yang sedang latihan.
Ikan asin, salah satu makanan favorit yang banyak jenisnya.

Menatap langit untuk mengetahui seberapa lama lagi sebelum pulang ke rumah.
Jalan-jalan sambil motret memang menyenangkan. Walaupun lokasinya masih di sekitar kita tinggal. Meskipun begitu, kita juga harus menyelinginya dengan istirahat. Yah, karena umur memang tidak bohong he..he..he... Lama-kelamaan bikin capek juga, apalagi kalau cuacanya lagi panas.

Saya sendiri kalau jalan-jalan seperti ini biasanya menyempatkan istirahat di taman ataupun di pos keamanan. Lumayan untuk melepas lelah sambil mengamati mereka yang lalu lalang.

Setelah merasa cukup, saya kembali pulang ke rumah dengan membawa harapan foto-foto yang saya ambil hasilnya akan memuaskan.  Ini yang membuat saya semangat, karena sesampainya di rumah saya bisa melihat langsung momen apa saja yang saya dokumentasikan.

* * * 

Saat saya merasa bosan dan malas kemana-mana, memotret lingkungan sekitar menjadi alternatif yang bisa dilakukan untuk mengusir kejenuhan.

Meski ada saatnya terlihat biasa-biasa saja, tapi saya yakin foto-foto yang terkumpul akan menghibur saat kita mengenang dan bernostalgia dengan masa yang telah lalu.

Selain itu, memotret lingkungan sekitar juga membantu kita mengetahui berbagai isu sosial yang ada. Ini setidaknya membuat kita menjadi lebih tahu tentang perubahan-perubahan yang ada di sekitar kita.

Bagaimana dengan kamu? Apa yang kamu lakukan saat bosan dan malas untuk berpergian jauh?


Sepenggal haru di hari raya



Di hari Idul Adha kali ini ada kisah akhir seekor kambing yang membuat saya haru. Meski saya sudah berkali-kali menyaksikan penyembelihan hewan kurban, tapi menyaksikan Murly membuat saya sedih tak seperti sebelum-sebelumnya.

Ya, saya panggil dia Murly, seperti coretan biru yang ada di tubuhnya.

Ketika saya tiba di lokasi, saya mendapati Murly sedang terikat di dinding Masjid. Tak ada teman dan tak bisa kemana-mana. Sedangkan di kiri dan kanan Murly, panitia kurban terlihat sibuk memotong dan mempersiapkan daging untuk dibagi-bagi.

Pada awalnya saya tidak memberikan perhatian lebih pada Murly. Karena saya lebih tertarik untuk melihat-lihat dari jarak dekat dan mendokumentasikan kesibukkan panitia kurban.

Tapi perhatian saya berubah saat Murly melongok ke dalam masjid dan mendapati tiga kepala sapi yang sudah dipotong sebelumnya. Ada rasa haru menghampiri dan berempati dengan dirinya. Seolah-olah saya sedang menyaksikan seseorang yang tengah menatap kematiannya sendiri.

Entah apa yang ada dalam pikiran dan hati Murly. Menunggu kematian yang tak lama lagi datang menghampiri.

Dan benar saja, tak lama kemudian panitia mengumumkan bahwa Murly adalah hewan kurban yang dipotong berikutnya! Ingin rasanya bilang, "yang ini nanti aja dipotongnya". Tapi saya sadar, permintaan seperti ini adalah hal yang sia-sia.

Entah apa yang terbesit di hati Murly setelah menyaksikan apa yang dilihatnya


Panitia telah mengumumkan bahwa berikutnya adalah giliran Murly.

Murly tiba-tiba berdiri dan kembali menatap akhir yang sebentar lagi mengampiri

Semuanya menjadi lebih haru ketika saya melihat Murly berdiri sekali lagi dan melongok ke dalam. Seolah ingin memastikan, apakah benar seperti ini akhir kisah hidupnya?

Andai saya bisa bicara kepadanya, saya ingin katakan, "Wahai Murly, benarlah adanya. Pengumuman tadi adalah awal dari akhir hidupmu. Tapi apa yang akan engkau lalui, bukanlah sebuah kesia-siaan."

Panitia kini sudah siap untuk memotong Murly. Tiga kepala yang dilihatnya tadi, tak lama lagi akan menjadi kenyataan bagi dirinya sendiri. Buat Murly, tidak ada lagi yang dia bisa lakukan selain menghadapi gilirannya.

Murly memberikan perlawanan terakhir sebelum menuju ke tempat pemotongan
Langkah terakhir Murly

Detik-detik terakhir Murly menjelang akhir perjalanannya

Tak lama kemudian panitian berhasil merebahkan tubuh Murly, dan inilah detik-detik terakhir hidup seekor kambing yang baru saya kenal beberapa saat saja.

Sambil mengucapkan takbir, saya menyaksikan bagaimana pisau tajam diposisikan tepat di kerongkongan Murly.

Satu menit menjelang 9:30, Murly pun berpisah dari jasadnya. Rontaan dirinya perlahan melemah seiring deras darah yang keluar dari tubuhnya.

Terus terang saya sedih melihatnya pergi. Tapi saya sadar, bahwa apa yang dilalui Murly adalah sebuah pengorbanan yang mulia. Dia menjadi pahala bagi yang pembelinya, dan menjadi nasehat bagi saya yang menyaksikan pemotongannya.

Murly diangkat untuk kemudian dibersihkan. Ini adalah perpisahan terakhir dengannya

Terima kasih Murly, meski cuma sesaat kita bertemu, tapi apa yang engkau berikan begitu memberi kesan.

Maha Besar Engkau Ya Allah yang telah menyisipkan hikmah dari kehidupan seekor kambing kurban, dan Alhamdulillah, atas segala kebaikan yang Engkau tunjukkan.

Semoga semua ini menjadi catatan amal bagi kami semua.

Cara enak mengatasi panas dalam

Saya itu doyan makan dan cukup akrab dengan sindiran "Apa sih yang enggak enak buat lo?" Memang sih, kalau dipikir-pikir saya ini relatif tidak pernah mengeluh soal rasa. Selama enak, ya saya makan.

Tapi terlepas dari semua itu, ada satu hal yang cukup menganggu saya dalam menikmati makanan: panas dalam.

Ketika saya mengalami panas dalam, biasanya saya merasakan panas di sekitaran perut dan cenderung berkeringat lebih banyak. Meski saya sudah minum pakai air dingin, tetap saja rasa panas tidak hilang-hilang.

Pada awalnya mungkin saya tidak terlalu memperhatikan, tapi biasanya setelah seminggu atau dua minggu, rasa tidak nyaman itu harus diakhiri.

Nah, untuk mengatasi panas dalam dulu saya suka minum Adem Sari atau Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga.

Untuk Adem Sari, awalnya cukup efektif, tapi lama-kelamaan saya kok malah tidak nyaman dengan produk ini.

Agak sulit untuk menjelaskannya, tapi seperti ada rasa asam-asam yang tidak jelas begitu di perut. Karena berulang kali terjadi, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti mengkonsumsi Adem Sari.

Berikutnya adalah Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga. Produk ini masih saya konsumsi kalau pas ingat. Saya kadang beli yang botol besar. Lumayan efektif mesti tidak konsisten. Menurut saya ini adalah penyembuhan panas dalam jalur lambat. Mungkin harus minum beberapa botol sebelum panas dalam benar-benar hilang.

Lalu pada satu waktu, saya tidak sengaja mendengar percakapan yang bilang "cincau itu untuk ngademin perut." Entah kenapa, ketika mendengar itu saya jadi penasaran. Apa iya? Lagipula, cincau seperti membangkitkan kenangan lama saya saat masih kecil dulu.

Akhirnya saya iseng mencoba beli es cincau gerobak.

Uwalah! Ternyata manjur! Ternyata memang bikin adem.

Semenjak itu, saya selalu mencari es cincau untuk mengatasi panas dalam. Hasilnya pun relatif cepat. Tidak selama metode yang lain, dan tentunya lebih enak.

Saya biasanya membeli es cincau dengan sedikit gula atau tidak sama sekali. Memang terkadang terasa hambar, tapi tetap manjur kok.

Nah, untuk mereka yang ingin membeli es cincau, tolong perhatikan air santannya. Karena beberapa kali saya dapati, santan yang dicampur tidak berasa seperti santan.

Saya curiga ini sebenarnya air biasa yang dicampur dengan susu kental manis warna putih. Ujung-ujungnya malah merusak rasa.

Bagaimana dengan kamu? Apa yang dikonsumsi untuk mengatasi panas dalam?



Tips saat bingung memilih handphone

Salah satu belanja yang paling membingungkan adalah belanja handphone. Apalagi untuk orang yang awam tentang hape seperti saya. Banyaknya pilihan merek dengan fitur yang serupa membuat belanja hape menjadi sebuah proses yang panjang dan terkadang melelahkan.

Meskipun begitu, saya tetap menjalaninya karena dengan uang yang saya keluarkan, saya ingin mendapatkan handphone dengan fitur terbaik yang bisa memenuhi kebutuhan untuk komunikasi sehari-hari, browsing Internet, nonton YouTube, dan baca-baca media sosial.

Nah, berikut adalah hal-hal yang saya lakukan saat membeli hape beberapa waktu yang lalu. Mudah-mudahan bisa membantu Anda yang sedang bingung memilih handphone:

Tentukan budget


Ini adalah hal pertama yang harus disepakati sebelum mencari handphone. Berapa besar uang yang bisa kita belanjakan? Karena ini akan menentukan model dan merek handphone yang bisa kita beli.

Saya pribadi selalu menentukan budget membeli handphone tidak lebih dari 2,5 - 3 juta rupiah. Karena kalau sudah lebih dari itu, saya merasa harganya sudah terlalu mahal.

Anda bisa menentukan sendiri berapa besar budget yang perlu disiapkan, dan menurut hemat saya, akan lebih baik jika besarannya bisa mencukupi tanpa harus membeli dengan cicilan.

Hindari beli dengan mencicil


Handphone adalah barang yang nilainya cepat jatuh. Sebuah handphone flagship sekalipun akan terlihat "tua" dalam beberapa bulan saja karena model terbaru sudah keluar lagi. 

Untuk itu, saya tidak menyarankan untuk membeli handphone dengan cara kredit karena tidak akan sebanding dengan tenaga dan pengorbanan yang kita lakukan untuk membayar cicilannya. Untuk belanja handphone, langkah yang paling rasional menurut saya adalah dengan menabung sampai dananya mencukupi.

Baca atau tonton ulasan (review)


Setelah budget tersedia, kita sudah bisa memulai pencarian handphone yang sesuai dengan budget yang telah disiapkan.

Saya biasanya mulai dengan membuka marketplace seperti Bukalapak, Lazada, Tokopedia, dan sebagainya. Di market place tersebut, saya bisa filter semua handphone yang harganya masih dalam jangkauan budget saya. Nah, di sinlah biasanya kebingungan dimulai. Karena ternyata banyak sekali model dan merek yang ditawarkan dengan fitur yang serupa antara satu dengan yang lainnya.

Setelah mensortir, saya mulai memilih model-model handphone yang saya sukai dan membaca atau menonton ulasannya. Karena saya tidak punya preferensi pada satu merek tertentu, maka proses ini bisa memakan waktu cukup lama. Dari pengalaman saya, dari mulai mencari, membaca review, dan akhirnya memilih bisa makan waktu hingga 2-3 minggu.

Satu cara yang menurut saya patut untuk dilakukan adalah dengan mempertimbangkan model-model flagship terdahulu. Memang sudah tidak "in" lagi, tapi biasanya model-model tersebut punya spesifikasi yang lebih mumpuni dibandingkan dengan handphone-handphone baru dari merek lain.

Spesifikasi


Untuk spesifikasi, saya tidak akan terlalu spesifik. Saya hanya menyarankan pilihlah handphone dengan processor Snapdragon. Hindari membeli handphone yang menggunakan processor MediaTek (MTK) meski harganya lebih murah.

Dari pengalaman saya, handphone dengan processor MediaTek cenderung lebih panas, boros baterai, dan terlambat dalam menerima update.

Sedangkan untuk besar layar, saya menyarankan dengan ukuran 5-5,5 inchi. Lebih dari itu sudah terlalu besar meskipun lebih enak untuk dilihat. Begitu juga dengan memori, akan lebih baik memilih handphone yang punya memori di atas 2GB dan media penyimpanan setidaknya 32 GB.

Bagaimana dengan iPhone? Untuk handphone dari Apple, saya rasa itu lebih kepada pilihan. Kalau memang dana mencukupi dan ada kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi oleh handphone lainnya, maka silakan memilih untuk membeli iPhone. Tapi kalau tidak, saya menyarankan uangnya digunakan untuk hal lainnya saja.

Handphone bekas pakai


Handphone seken bisa menjadi pilihan ketika spesifikasi yang diinginkan tidak sesuai dengan kecukupan dana.

Untuk handphone bekas pakai, saya menyarankan untuk melirik handphone kelas flagship. Meski spesifikasinya berada di bawah model yang baru, tapi tetap di atas rata-rata handphone lainnya.

Selain itu, handphone flagship seken biasanya juga menawarkan value for money yang lebih baik. Memang kita jadi berkompromi, tapi dengan uang yang dikeluarkan dan fitur yang didapat, handphone seken bisa menjadi pilihan yang menarik.

Atau...

Carilah handphone flagship yang sudah lalu tapi masih dalam kondisi baru. Meski mungkin lebih mahal dari hape flagship serupa yang seken, tapi tetap menawarkan value for money yang baik.

Tidak buru-buru


Ini mungkin bagian yang paling penting dari semuanya.

Bersabarlah dalam mencari dan tidak terburu-buru dalam memutuskan. Karena seyogyanya handphone yang kita punya sekarang masih berfungsi dengan baik, dan bisa memenuhi kebutuhan sampai handphone baru tiba.

Menunggu sambil terus mencari juga punya keuntungan, yaitu kita bisa menemukan handphone yang lebih baik dari yang kita rencanakan sebelumnya. Oleh karenanya, jangan terlalu cepat memutuskan dan beri waktu pada diri sendiri untuk mempertimbangkan handphone mana yang akan dibeli.

* * *

Salah satu belanja yang paling membingungkan adalah belanja handphone. Apalagi untuk orang yang awam tentang hape. Banyaknya pilihan merek dengan fitur yang serupa membuat belanja hape bisa menjadi lama.

Meskipun begitu, kita tetap perlu mengedepankan kehati-hatian dan bersabar. Pilihlah handphone yang sesuai dengan kemampuan dana namun tetap bisa memenuhi kebutuhan, baik itu secara teknis maupun lainnya. Selain itu, handphone seken juga bisa kita pertimbangkan jika dirasa perlu karena bisa menawarkan value for money yang baik.

Nah, kalau Anda bagaimana? Apa yang Anda lakukan ketika bingung memilih handphone yang akan dibeli?

Photo by Felipe P. Lima Rizo on Unsplash

Gorengan yang paling disukai


Rasanya tidak salah kalau saya bilang gorengan adalah cemilan paling populer di Indonesia. Bahkan mungkin sudah menjadi jajanan harian yang wajib ada bagi mereka para penikmat gorengan.

Saya sendiri termasuk orang yang suka dengan gorengan, tapi tidak sampai beli tiap hari. Hanya saat iseng atau ketika tiba-tiba ingin beli.

Nah, di dekat rumah, ada penjual gorengan dekat Alfamidi yang risolnya enak sekali. Untuk mendapatkannya, kita harus ke sana pagi-pagi karena kalau sampai kesiangan biasanya sudah habis. Yap, sebegitu populernya.

Selain risol, gorengan berikutnya yang cukup enak di situ adalah pisang dan tahu gorengnya. Saya biasanya beli 10 ribu dan minta ke Ibu untuk mencampur ketiga jenis gorengan tadi. Ibu juga menjual tempe, bakwan, dan pisang molen. Tapi sayangnya tidak menjual cireng. Padahal saya yakin kalau ada, cireng akan jadi salah satu primadona juga.

Rahasia menikmati gorengan menurut saya adalah memakannya saat masih panas. Apalagi kalau dipadu dengan cabe rawit, bikin nagih. Kalau tidak ingat yang lain, bisa-bisa habis sama diri sendiri.

Selain itu, gorengan sepertinya juga jadi cemilan pendamping saat minum kopi pagi ya? Saya sendiri kurang tahu karena bukan peminum kopi. Tapi dari apa yang teman saya ceritakan, minum kopi sambil makan gorengan terdengar begitu menggoda.

Bicara soal gorengan, ada sisi menarik yang suka jadi bahan omongan: kertas bungkusnya.

Sudah menjadi rahasia umum kalau bungkus gorengan suka menyimpan informasi-informasi penting yang sepatutnya tidak tersebar di sembarang tempat. Seperti misalnya fotokopi ijazah, surat resmi, CV, dan sebagainya.

Entah bagaimana ceritanya informasi-informasi tersebut bisa sampai tercecer sampai sebegitunya. Yang jelas, praktek buang dokumen penting seperti ini masih saja berlangsung.

Kemudian soal kebersihan.

Saya tidak tahu seberapa bersih kertas bungkusan yang digunakan oleh para pedagang gorengan. Tapi saya duga mereka juga membeli dari penjual bungkusan hasil mendaur ulang kertas bekas.  Jadi bisa dibayangkan dong?

Dilematis, tapi juga ajaib, karena dari yang saya amati selama ini konsumen sepertinya tidak terlalu memusingkan soal itu.

Mereka mungkin akan membaca sekilas, tapi tidak lebih dari itu. Karena lebih penting menikmati gorengannya daripada memperhatikan tulisan ataupun memikirkan soal kebersihan bungkusan.

Saya pribadi lebih suka bungkusan gorengan yang bagian dalamnya polos, karena terlihat lebih bersih dan tidak ada bekas tinta printer. Jadi ya, terlihat lebih aman lah. Mudah-mudahan.

Kalau Anda bagaimana? Apakah suka beli gorengan juga? Kalau iya, gorengan apa yang biasanya dibeli? Atau justru lebih senang bikin sendiri?

Memotret lansia dan refleksi diri


Saat saya berjalan kaki sambil membawa kamera, saya suka menyempatkan diri untuk berhenti sejenak dan ngobrol dengan lansia yang saya temui di jalan. Ada rasa penasaran dalam diri saya untuk mengetahui tentang mereka dan bagaimana cara mereka menghadapi ujian hidup.

Ketertarikan saya untuk melakukan itu mungkin didasari oleh pencarian dalam diri saya sendiri. Pencarian untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan hidup yang saya jalani, serta sebagai bahan renungan tentang kekuasaan Allah.

Ketika saya melihat sesosok lansia di jalan, saya tidak kuasa untuk berpikir tentang hidup saya sendiri. Kelak bila diberi kesempatan, saya pun akan menjadi tua, keriput, dan renta seperti mereka.

Akankah saya bisa lebih bijaksana ketika berada di posisi itu? Ataukah saya masih seperti sekarang, yang kerap bersikap emosional dan bertindak bodoh dalam menghadapi berbagai persoalan hidup?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang akhirnya mendorong saya untuk menyapa, mengajak bicara, dan memotretnya.



Dari obrolan dengan mereka, seringkali saya temukan kekaguman atas kegigihan dalam menjalani hidup. Jawaban-jawaban mereka membuat saya terdiam dan kerap menohok keangkuhan diri saya sendiri. Terlebih saat mengetahui kondisi saya ternyata masih lebih baik dari mereka.

Alangkah malunya saya atas keluh kesah dan prasangka terhadap Sang Ilahi.

Pertemuan-pertemuan saya dengan sejumlah lansia juga mengingatkan saya akan Ayah. Sosok yang dulu kuat kesana kemari, kini makin berkeriput, melambat, dan melemah. Meski semangat dan ketegarannya masih terpancar, tapi tak terpungkiri bahwa dia sudah tak seperti yang dulu lagi.



Saya teringat ketika menemaninya potong rambut. Saat itu saya duduk di belakang dan mengamatinya diam-diam. Ada rasa sesal, iba, dan sayang yang saya rasakan saat itu. Sesal tidak bisa tinggal dekat darinya, iba melihat tubuhnya yang makin tua, dan sayang ingin menjaga dan membahagiakannya.



Jika saya diberi umur yang lebih panjang, maka menjadi tua adalah sebuah kepastian.

Saya tidak tahu apakah saya akan jadi lebih bijak di hari tua nanti, dan apakah saya bisa menjadi seorang hamba yang lebih baik lagi. Tapi yang jelas, memotret lansia membantu saya untuk lebih berhati-hati dalam bertindak, lebih dalam dalam berpikir, dan lebih merenungi nikmat Allah yang diberikan kepada saya selama ini.

5 Alasan pembeli tidak mau datang lagi

Layanan konsumen memegang peranan penting dalam keberhasilan sebuah usaha. Maka tidak heran kalau perusahan-perusahaan terkemuka menaruh perhatian dan sumberdaya yang besar terhadap kualitas layanan konsumen mereka. Lalu bagaimana dengan usaha rumahan?

Tidak berbeda dengan perusahaan besar, usaha rumahan juga perlu memperhatikan kualitas layanan kepada para pembeli. Ini penting, karena konsumen yang terpuaskan, berpeluang menjadi seorang pelanggan yang setia dan jadi duta promosi melalui word of marketing (WOM).

Word of marketing adalah bentuk promosi yang tidak boleh dipandang sebelah mata oleh pemilik usaha rumahan. Karena berkembangnya sebuah usaha rumahan umumnya dimulai dari omongan mulut ke mulut para pembelinya.

Meskipun begitu, word of mouth marketing bukanlah tanpa resiko. Word of mouth marketing juga bisa menjadi sebuah bumerang apabila kekecewaan konsumen tidak mendapat perhatian yang selayaknya.

Untuk menghindari resiko tersebut, maka saya mengurutkan lima sikap yang sebaiknya dihindari oleh pelaku usaha rumahan yang berkaitan dengan layanan konsumen:

1. Mengurangi timbangan 


Mengurangi timbangan dapat diartikan secara harfiah ataupun metafor.

Mengurangi timbangan dalam artian sebenarnya adalah mengurangi jumlah takaran yang seharusnya konsumen terima, sedangkan secara metafor, adalah memberikan pernyataan yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Baik itu dalam bentuk janji, promosi, ataupun garansi.

Perilaku mengurangi timbangan umumnya didorong oleh keserakahan pelaku usaha yang ingin mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa lagi peduli dengan nilai-nilai kejujuran. Selama itu untung tanpa ketahuan, maka selama itu pula mereka melakukannya.

Bagi sebuah usaha rumahan, "timbangan" merupakan tes kejujuran yang paling mendasar karena di situlah titik awal halal haramnya keuntungan yang kita dapatkan. Jika kita selalu menempatkan kejujuran dalam menakar, maka tak hanya keuntungan yang didapat, tapi juga keberkahan rezeki dalam menjalankan usaha. Bukankah ini yang kita inginkan?

2. Kembalian permen


Saya masih suka mendapati usaha kecil yang memandang remeh kembalian permen dan menganggap enteng kekecewaan konsumen yang menerimanya. Alasan yang paling sering diberikan masih yang itu-itu saja: tidak ada kembalian.

Sebagai konsumen, kita tentu lebih menyukai kembalian dalam bentuk uang, sereceh apapun itu. Ini karena kembalian permen menohok rasa keadilan dan memberikan kesan yang tidak baik.

Kembalian permen mungkin terlihat kecil. Tapi untuk usaha rumahan, model kembalian seperti ini hanya akan meninggalkan rasa kecut di hati pembeli dan merusak image usaha yang sedang dibangun. 

Jika ini terus dipertahankan, maka konsumen akan merasa kapok dan tidak akan mengulangi belanjanya. Dan yang lebih parahnya lagi, dia tidak akan merekomendasikan usaha kita kepada yang lain.

Saya berpendapat kita lebih baik mengorbankan sedikit keuntungan daripada harus memberikan kembalian permen. Jika total harga menyulitkan untuk memberikan kembalian, maka akan lebih baik untuk membulatkan ke bawah. Misalnya dari total Rp 10,800 menjadi Rp 10,500 atau bahkan Rp 10,000 saja.

Cara di atas tidak hanya memudahkan konsumen, tapi juga memberikan rasa puas karena mendapat potongan harga. Kita sendiri sebagai pemilik usaha secara tidak langsung akan tetap diuntungkan karena image positif yang ditimbulkannya.

3. Tidak mendidik karyawan cara melayani


Saya rasa kita pernah sama-sama membaca berbagai keluhan pembeli yang kecewa karena sikap karyawan yang tidak baik. Jika ini menimpa usaha kita, maka sudah sepatutnya kita mengevaluasi diri kenapa hal tersebut bisa terjadi.

Sebagai pemilik usaha rumahan, kita mempunyai tanggung jawab mendidik para karyawan dalam menghadapi konsumen. Baik itu cara menjawab, melayani, atau bertanya. Meski mungkin pembeli kita baru saudara atau tetangga sekitar, tapi tanpa keterampilan melayani yang memadai, karyawan yang kita pekerjakan bisa memberikan kesan yang tidak diinginkan terhadap usaha kita.

Cara termudah melatih mereka adalah dengan memberikan contoh langsung kepada mereka. Libatkan karyawan saat kita sedang melayani pembeli. Kenalkan sang karyawan pada konsumen dan berikan petunjuk apa yang mesti dikerjakan. Dengan begitu diharapkan akan terbangun hubungan yang baik antara karyawan dan pembeli.

Saat waktu lengang, sampaikan pula apa yang kita harapkan dari mereka dan diskusikanlah kendala-kendala yang dihadapi mereka saat melayani. Ajak pula karyawan untuk mengemukakan solusi dari masalah yang ada. Harapannya adalah untuk menumbuhkan rasa memiliki dan lebih bertanggung jawab dengan tugas-tugas mereka.

4. Tidak siap dengan pertanyaan konsumen


Sudah tidak aneh kalau pembeli suka bertanya-tanya terlebih dahulu. Mulai dari pertanyaan umum seputar harga dan produk, sampai dengan pertanyaan-pertanyaan yang sepertinya tidak nyambung.

Sebagai pemilik usaha rumahan, kita harus memahami bahwa ini adalah sebuah proses di mana pembeli sudah menunjukkan minat tapi masih perlu diyakinkan.

Untuk itu, ada baiknya kita mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul dan mempersiapkan jawabannya. Dengan begitu, ada kesamaan jawaban yang diterima pembeli antara yang satu dengan yang lain.

Memiliki kumpulan jawaban untuk pertanyaan yang sering muncul akan memudahkan kita dalam melayani pertanyaan umum dan juga dalam menjawab pertanyaan seputar potongan harga. Khususnya bagi mereka yang suka menawar.

Masih terkait dengan mendidik karyawan, jawaban-jawaban yang kita sediakan juga sebaiknya disosialisasikan juga dengan karyawan. Dengan begitu, mulai dari pemilik sampai karyawan, jawaban yang diterima pembeli juga akan sama.


5. Tidak menjadi pendengar yang baik


Usaha rumahan memiliki kelebihan dibanding usaha yang sudah besar, yaitu kita bisa memberikan pelayanan yang lebih personal kepada konsumen. Cukup dengan telepon atau WhatsApp, pembeli sudah bisa bertanya langsung dengan pemilik usaha. Coba bandingkan dengan perusahaan-perusahaan besar, berapa banyak lapisan yang harus kita lalui untuk menyampaikan maksud sebagai konsumen?

Meskipun begitu, kelebihan ini juga menuntut kita untuk menjadi pendengar yang baik. Karena jika pembeli sudah merasa nyaman, bukan tidak mungkin dia akan berbagai cerita dengan kita. Baik itu yang berhubungan dengan produk kita maupun tidak. Ketika ini terjadi, maka kita suka perlu memposisikan diri sebagai teman curhat dan menjadi pendengar yang baik.

Berikanlah perhatian dan hindari kesan acuh terhadap mereka. Apa yang disampaikan mungkin saja membosankan atau tidak menarik, tapi di sinilah sebenarya kesempatan kita untuk membangun hubungan yang lebih personal dengan pembeli.

Berempatilah dengan apa yang mereka alami dan berikanlah dukungan moral dengan apa yang mereka tengah perjuangkan. Pujilah keberhasilan mereka dengan menunjukkan rasa senang dengan apa yang mereka raih.

Apabila ada keluhan, hadapilah dengan tenang. Ingat, konsumen yang mengeluh adalah konsumen yang mengeluh dengan produk-produk kita. Mungkin keluhannya menyebalkan dan tidak masuk akal, namun jika ia merasa keluhannya didengar dan ditanggapi dengan baik, maka bukan tidak mungkin dia akan menjadi pelanggan setia.

* * *

Tidak berbeda dengan perusahaan besar, usaha rumahan juga perlu memperhatikan kualitas layanan kepada para pembeli. Ini penting, karena konsumen yang terpuaskan, berpeluang menjadi seorang pelanggan yang setia dan jadi duta promosi melalui word of marketing (WOM).

Meskipun begitu, word of mouth marketing bukanlah tanpa resiko. Word of mouth marketing juga bisa menjadi sebuah bumerang apabila kekecewaan konsumen tidak mendapat perhatian yang selayaknya.

Untuk menghindari itu, kita perlu mengedepankan kejujuran dengan menjaga timbangan, menghormati pembeli dengan memberikan kembalian berbentuk uang, dan mendidik karyawan yang kita miliki. Selain itu, kemampuan kita untuk menjadi pendengar yang baik dan siap dengan pertanyaan-pertanyaan konsumen akan memberi kesan yang baik terhadap usaha rumahan yang kita bangun.

Bagaimana dengan Anda? Hal apa saja yang perlu dilakukan oleh pelaku usaha rumahan agar pembeli merasa nyaman?

Bagikan pengalaman Anda di kolom komentar. Saya ingin sekali mengetahui pendapat Anda.