Sepenggal haru di hari raya



Di hari Idul Adha kali ini ada kisah akhir seekor kambing yang membuat saya haru. Meski saya sudah berkali-kali menyaksikan penyembelihan hewan kurban, tapi menyaksikan Murly membuat saya sedih tak seperti sebelum-sebelumnya.

Ya, saya panggil dia Murly, seperti coretan biru yang ada di tubuhnya.

Ketika saya tiba di lokasi, saya mendapati Murly sedang terikat di dinding Masjid. Tak ada teman dan tak bisa kemana-mana. Sedangkan di kiri dan kanan Murly, panitia kurban terlihat sibuk memotong dan mempersiapkan daging untuk dibagi-bagi.

Pada awalnya saya tidak memberikan perhatian lebih pada Murly. Karena saya lebih tertarik untuk melihat-lihat dari jarak dekat dan mendokumentasikan kesibukkan panitia kurban.

Tapi perhatian saya berubah saat Murly melongok ke dalam masjid dan mendapati tiga kepala sapi yang sudah dipotong sebelumnya. Ada rasa haru menghampiri dan berempati dengan dirinya. Seolah-olah saya sedang menyaksikan seseorang yang tengah menatap kematiannya sendiri.

Entah apa yang ada dalam pikiran dan hati Murly. Menunggu kematian yang tak lama lagi datang menghampiri.

Dan benar saja, tak lama kemudian panitia mengumumkan bahwa Murly adalah hewan kurban yang dipotong berikutnya! Ingin rasanya bilang, "yang ini nanti aja dipotongnya". Tapi saya sadar, permintaan seperti ini adalah hal yang sia-sia.

Entah apa yang terbesit di hati Murly setelah menyaksikan apa yang dilihatnya


Panitia telah mengumumkan bahwa berikutnya adalah giliran Murly.

Murly tiba-tiba berdiri dan kembali menatap akhir yang sebentar lagi mengampiri

Semuanya menjadi lebih haru ketika saya melihat Murly berdiri sekali lagi dan melongok ke dalam. Seolah ingin memastikan, apakah benar seperti ini akhir kisah hidupnya?

Andai saya bisa bicara kepadanya, saya ingin katakan, "Wahai Murly, benarlah adanya. Pengumuman tadi adalah awal dari akhir hidupmu. Tapi apa yang akan engkau lalui, bukanlah sebuah kesia-siaan."

Panitia kini sudah siap untuk memotong Murly. Tiga kepala yang dilihatnya tadi, tak lama lagi akan menjadi kenyataan bagi dirinya sendiri. Buat Murly, tidak ada lagi yang dia bisa lakukan selain menghadapi gilirannya.

Murly memberikan perlawanan terakhir sebelum menuju ke tempat pemotongan
Langkah terakhir Murly

Detik-detik terakhir Murly menjelang akhir perjalanannya

Tak lama kemudian panitian berhasil merebahkan tubuh Murly, dan inilah detik-detik terakhir hidup seekor kambing yang baru saya kenal beberapa saat saja.

Sambil mengucapkan takbir, saya menyaksikan bagaimana pisau tajam diposisikan tepat di kerongkongan Murly.

Satu menit menjelang 9:30, Murly pun berpisah dari jasadnya. Rontaan dirinya perlahan melemah seiring deras darah yang keluar dari tubuhnya.

Terus terang saya sedih melihatnya pergi. Tapi saya sadar, bahwa apa yang dilalui Murly adalah sebuah pengorbanan yang mulia. Dia menjadi pahala bagi yang pembelinya, dan menjadi nasehat bagi saya yang menyaksikan pemotongannya.

Murly diangkat untuk kemudian dibersihkan. Ini adalah perpisahan terakhir dengannya

Terima kasih Murly, meski cuma sesaat kita bertemu, tapi apa yang engkau berikan begitu memberi kesan.

Maha Besar Engkau Ya Allah yang telah menyisipkan hikmah dari kehidupan seekor kambing kurban, dan Alhamdulillah, atas segala kebaikan yang Engkau tunjukkan.

Semoga semua ini menjadi catatan amal bagi kami semua.

Share This:

1 komentar:

  1. Aku paling gak tega melihat hewan disembelih, apalagi disakiti, makanya pas kurban kemarin aku pilih melipir di rumah aja

    BalasHapus